Senin, 14 Januari 2013

PEMBUATAN MASTER AUDIO

Mengapa audio perlu di-mastering?

Audio perlu dimastering karena agar audio itu menghasilkan tingkat Loudness (kekerasan suara), ekualisasi, harmoni, stereo image mirip dengan hasil rekaman profesional (seperti yang adala pada audio di CD komersil)
  1. Bagaimana cara me-mastering audio?
  2. Bagaimana langkah – langkah mastering audio?
  3. Equalization (linear and linear phase).
  4. Compression (full frequency and multiband).
  5. Digital limiting.
  6. Dither.
  7. Harmonic simulation (tube or tape emulation).
  8. Noise shaping.
  9. Stereo-field enhancement.
  10. Editing.
Berapa besar level audio saat pra-mastering?
Pada saat me-mastering lagu sebaiknya lagu hasil mixing (seperti adobe auditions)  di MIXDOWN / RENDER dari DAWterlebih dahulu ke format minimal WAV dengan sample rate 48KHz 24bit dengan level Volume antara -6 dB sampai -3 dB. Level ini digunakan agar hasil mixdown lagu kita memiliki dymanic Range yang besar, ,jadi lagu tersebut pada saat di mastering tidak terkesan Over,

Berapa besar level audio saat mastering?
Nah setelah mengalami proses pengeditan seperti EQ, compressor, Limit, dll pada saat akhir proses mastering , kita harus menentukan berapa besar level audio/tingkat kekerasan master audio tersebut.Tingkat kekerasan audio setiap audio ini beda-beda tergantung genre musik yang dimaster… cara mudah menentukan ini yaitu kita mengguakan lagu reverensi dengan genre musik yang mirip dengan musik yang kita kerjakan, atau dengan mengikuti tabel standari DR yang telah ada.



Beberapa Tips dalam me-mastering lagu...

Tips mastering 1: Perkaya telinga dengan mendengarkan CD-CD referensi ORIGINAL.

Tentukan genre musik dari lagu yang akan anda mastering, kemudian pinjam (jika anda keberatan membeli album band yang tidak sukai) beberapa cd album dari artis – artis besar di genre tersebut dan dengarkan lagu-lagu mereka (NOTE: referensi sebaiknya dari cd audio dan bukan mp3). Hal ini biasa saya lakukan untuk membiasakan telinga saya dengan sound dari lagu-lagu di genre tersebut, karena bagaimanapun setiap genre musik memiliki ciri khas sound yang dihasilkan terutama dari settingan eq dan power RMS. “Ritual” mendengarkan cd lagu lainpun biasanya saya lakukan disela sela proses mastering untuk mengistirahatkan dan merefresh telinga karena ketika anda melakukan mastering, tentunya lagu yang anda mastering tersebut anda dengar berulang-ulang kali.

Tips mastering 2: Pada saat mastering audio, dengarkan lagu tersebut dari beberapa posisi.

Jadilah audio engineer yang lincah :), yang tidak terpaku duduk ditengah speaker monitor. Pada saat mendengarkan lagu yan sedang anda mastering, terkadang anda harus bergeser sedikit ke kiri, sedikit ke kanan, berdiri dan mundur kebelakang untuk mendengarkan sound dari lagu yang sedang anda mastering dari berbagai posisi (bahkan saya biasanya sedikit menaikan volume lagu yang saya mastering kemudian membuka pintu studio dan mendengarkan lagu yang saya mastering tersebut dari ruangan sebelah). Hal tersebut dikarenakan speaker monitor studio merupakan speaker yang telah diset terfokus ke telinga engineer yang pada umumnya duduk di tengah speaker-speaker tersebut, sementara anda sebagai engineer harus membuat lagu yang sedang anda mastering tetap terdengar “baik” dari posisi manapun orang lain akan mendengarnya.



Tips mastering 3: Dengarkan lagu yang sedang anda mastering pada mode mono

Terkadang (biasanya secara tidak sengaja) orang lain mendengarkan lagu anda pada mode ini, entah karena salah satu speaker dari sound system mereka bermasalah, ataupun mereka mendengarkan lagu dari tape deck kakek mereka :). Atau, jika anda mendaftarkan lagu yang anda mastering untuk RBT yang dapat didownload oleh orang lain-pun, umumnya para content provider meminta lagu anda dengan durasi 30 detik dan pada mode mono.
Pada saat anda mendengarkan lagu yang sedang anda mastering pada mode mono, jelas anda tidak akan dapat mendengarkan lagu tersebut dengan sound yang bagus, namun konsep utamanya adalah : membuat hasil mastering audio lagu yang meskipun didengarkan pada mode mono, tidak terlalu terdengar “berantakan”. Untuk melakukan proses “mono checking” ini, saya biasanya menggunakan software Izotope Ozone. Pada software tersebut, anda dapat menemukan konfigurasi mono dibagian Multiband Stereo Imaging kemudian mencentang bagian Show Channel Ops.


Tips mastering 4: Dengarkan hasil mastering audio lagu anda pada level volume berbeda

Dengarkan lagu yang anda mastering pada volume normal, namun secara berkala dengarkan lagu tersebut pada volume yang keras, sangat keras, pelan dan sangat pelan untuk mengetahui bagaimana sound dari lagu tersebut ketika orang lain mendengarkannya dengan level volume yang pastinya sangat beragam.


Tips mastering 5: Dengarkan di sound system dan speaker yang berbeda

Buatlah beberapa versi dari hasil mastering anda, kemudian burn kedalam CD audio dan dengarkan hasilnya pada stereo system di rumah, kantor, laptop ataupun di mobil. Tidak usah terlalu terobsesi untuk mencari detail perbedaan secara spesifik, tapi hanya sebagai gambaran hasil mastering anda jika di dengarkan di tempat lain.

Tips mastering 6: Dengarkan lagi besok pagi

Ketika anda telah merasa puas dengan hasil mastering audio yang anda lakukan pada lagu anda (ataupun kebalikannya, merasa frustasi karena tidak mendapatkan hasil yang anda inginkan), matikan lagu tersebut kemudian tidur dan dengarkan kembali hasil mastering audio anda pada keesokan paginya. Hal ini selalu saya lakukan dan terbukti telah dapat membuat saya menemukan kesalahan-kesalahan yang saya lakukan pada saat mastering sehari sebelumnya. Bahkan pada proyek-proyek tertentu yang tidak memiliki deadline yang mendesak, saya mematikan hasil mastering lagu tersebut untuk mendengarkannya kembali 2- 3 hari kemudian agar telinga saya bener-benar telah ter-refresh.

Tips tambahan untuk mastering audio lagu :

Jika proyek lagu yang sedang anda kerjakan adalah proyek dimana anda adalah musisi, arranger ataupun mixing engineer, bahkan merangkap produsernya, sebisa mungkin serahkan proses mastering ini pada audio engineer lain. Atau paling tidak, mintalah audio engineer lain melakukan proses mastering lagu anda sebagai perbandingan dengan hasil mastering anda sendiri. Hal ini disebabkan karena bagaimanapun sebagai orang yang telah terlibat diproses pembuatan lagu, anda terlalu “dekat” secara emosional dengan lagu anda tersebut, sehingga sulit untuk dapat mendengarkannya secara objektif . Dan pada posisi tidak objektif ini anda bisa saja terjebak pada kesalahan-kesalahan mendasar, seperti misalnya terlalu banyak memberikan extra treatment pada suara-suara yang sebenarnya tidak akan terlalu didengarkan oleh orang lain, ataupun kebalikannya, anda tidak terlalu mengekspos suara-suara yang sebenarnya terdengar jelas atau ingin didengar oleh orang lain.

sumber : http://andrianroult.blogspot.com/ ; modul pembelajaran mastering audio SMK ;  E-book Mastering Audio Protools 8


Materi pembuatan master lainya : E-BOOK DOWNLOAD DISINI


Yang belum memiliki software editing mastering audio, download saja disini
  ADOBE AUDITION 1.5




Contoh audio hasil editan di adobe audition.format WAVE standar audio preofesional

1. BELUM DIMASTER (download disini)

2. SUDAH DUMASTER (download disini)




 
Program Keahlian Teknik Audio Video Jln. Gempol Banyuning, SMK N 3 Singaraja